TERNATE – Keluarga Besar Arfat Pencinta Alam (Karfapala) Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, merasa terintimidasi akibat tindakan pembubaran nonton bareng (nobar) dan diskusi film dokumenter ‘Pesta Babi’ oleh seorang anggota TNI dan beberapa sekuriti kampus, pada Selasa (12/5/2026) malam di sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM).
“Kami menolak keras kehadiran tentara dalam lingkungan kampus karena membatasi ruang-ruang belajar mahasiswa. Dengan kehadiran tentara saja itu sudah mengintimidasi, apalagi larangan menonton film seperti tadi,” kata Ketua Karfapala Unkhair Ternate, Asriati La Abu, kepada wartawan, Rabu (13/5/2026).
Sebagai mahasiswa pencinta alam, kata Asriati, menonton film tersebut sangat relevan dengan aktivitas mereka. Ia menegaskan, menonton film merupakan bagian dari hak akademik mahasiswa yang tidak boleh dibatasi.
“Tidak ada batasan untuk mahasiswa yang ingin belajar, apalagi soal isu-isu lingkungan. Karena kami semua dari desa datang untuk belajar, bukan untuk dibatasi. Jadi mungkin setelah kejadian ini tidak ada lagi larang-larangan,” tandasnya.
Shandra Mauraji, Anggota Karfapala Unkhair, mengungkapkan sekitar lima sekuriti dan satu anggota Babinsa (TNI) datang membubarkan kegiatan tersebut tanpa banyak penjelasan.
“Tentara tiba-tiba masuk tanpa izin, tanpa salam dan langsung tutup laptop yang kami gunakan untuk nobar itu terhubung ke inFocus. Tentara bilang jangan putar film karena provokatif dan kontroversi,” katanya.
Menurut Shandra, tentara sempat menanyakan penanggung jawab kegiatan serta izin pemutaran film dan keramaian. Namun, ia mempertanyakan alasan mahasiswa harus meminta izin aparat untuk berkegiatan di sekretariat organisasi kampus.
Ia menilai aturan pembatasan aktivitas kampus belum pernah disosialisasikan secara menyeluruh. Selama ini, aktivitas mahasiswa di sekretariat, termasuk belajar dan menjaga fasilitas organisasi, tidak pernah dipersoalkan.
“Sekuriti dan tentara tanyakan soal izin. Sedangkan yang kita tahu kampus ini zona integritas tidak boleh ada aparat,” ucapnya.
Sementara itu, salah satu sekuriti kampus, Erwin menyampaikan pihaknya hanya menjalankan surat edaran rektor terkait pembatasan aktivitas di kampus. “Cuman terlalu ramai. Tadi Babinsa suruh kami back up,” katanya saat ditemui di pos jaga Unkhair usai pembubaran nobar.
Sebelumnya, Komandan Kodim (Dandim) 1501/Ternate, Letkol Inf. Jani Setiadi membubarkan nobar film yang digelar Koalisi Jurnalis di Benteng Oranje pada Jumat (8/5). Menanggapi hal ini, Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, menegaskan, pembubaran nobar film tersebut harus berdasarkan putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Keterlibatan TNI dalam hal ini tentunya tidak memiliki dasar hukum serta terlalu jauh dari kewenangan dan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) yang sudah diatur di dalam peraturan perundang-undangan, atau konstitusi negara tentang kebebasan berekspresi warga negara.
“Film itu hanya boleh dilarang menurut keputusan pengadilan, menurut undang-undang,” tegas Pigai, dikutip dari Antara, Selasa (12/5/2026).
Sekilas tentang film ‘Pesta Babi’
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita adalah sebuah film dokumenter investigatif karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale. Film ini menggambarkan perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah ulayat dan ruang hidup mereka dari ancaman eksploitasi skala besar.
Dilansir dari detikcom, Film Pesta Babi berfokus pada perjuangan masyarakat adat di selatan Papua yang menghadapi masuknya proyek industri besar di tanah leluhur mereka. Penonton diajak melihat bagaimana masyarakat adat berusaha mempertahankan hutan, budaya, dan ruang hidup mereka di tengah pembangunan skala besar.
Judul Film Diambil dari Tradisi Khas Papua.
Nama Pesta Babi berasal dari tradisi penting masyarakat Papua yang identik dengan kehormatan, persaudaraan, dan kebersamaan. Dalam film ini, simbol tersebut juga menggambarkan hubungan erat masyarakat adat dengan tanah dan alam Papua.
Sudah Tayang di Beberapa Negara.
Film Pesta Babi tidak hanya diputar di Indonesia, tetapi juga tayang di sejumlah kota luar negeri, seperti Auckland di Selandia Baru, Sydney dan Melbourne di Australia, Amerika Serikat, hingga Berlin di Jerman. Hal ini menunjukkan isu yang diangkat film tersebut mendapat perhatian lebih luas hingga tingkat internasional.
Sempat Mengalami Pembubaran saat Penayangan. Beberapa agenda pemutaran dan diskusi film Pesta Babi dikabarkan sempat dihentikan atau dibubarkan. Misalnya, selain di Ternate juga di UIN Mataram, Universitas Mataram, hingga Universitas Pendidikan Mandalika.
Disutradarai oleh Pembuat Film Sexy Killer dan Dirty Vote. Film Pesta Babi digarap oleh Dandhy Dwi Laksono, yakni sutradara yang juga terlibat dalam produksi film dokumenter Sexy Killers dan Dirty Vote. Oleh karena itu, film tersebut punya gaya penyampaian yang sama-sama menyoroti isu lingkungan, masyarakat, dan dampak pembangunan terhadap kehidupan warga setempat.(u)








