TERNATE, MATAPUBLIKMU.com – Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) terus mendorong pelestarian warisan budaya di berbagai daerah. Hal itu disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Semarang, Handi Priyanto, saat menghadiri kegiatan JKPI di Kota Ternate, Maluku Utara.
Handi menjelaskan, JKPI merupakan wadah yang beranggotakan 97 kabupaten/kota di Indonesia yang memiliki kekayaan pusaka dan warisan budaya, baik yang berwujud maupun tidak berwujud.
Kota Semarang menjadi salah satu daerah yang tergabung dalam jaringan tersebut. Menurut Handi, Semarang memiliki sejumlah warisan masa lalu yang hingga kini masih terpelihara dan menjadi bagian penting dari identitas kota. Salah satunya adalah kawasan Kota Lama Semarang.
“Di kita itu banyak warisan masa lalu yang masih terpelihara dengan baik, antara lain Kota Lama. Kawasan Kota Lama ini di Indonesia menjadi kawasan warisan masa lalu yang terbesar yang masih utuh sampai sekarang,” kata Handi, saat diwawancara, Jumat (28/8/2026) di Kota Ternate.
Ia menjelaskan, keunggulan Kota Lama Semarang terletak pada kawasan yang masih terjaga secara utuh. Jika di sejumlah kota lain warisan sejarah hanya tersisa pada ruas jalan atau bangunan tertentu, Semarang masih memiliki satu kawasan yang menjadi bagian dari warisan sejarah kota.
“Kalau di kota lain kan hanya satu ruas jalan tertentu, tapi di Semarang satu area. Itu masih terjaga dan kita jaga dengan baik, kita lestarikan,” ujarnya.
Selain Kota Lama, Semarang juga memiliki sejumlah bangunan bersejarah lainnya, termasuk Lawang Sewu yang menjadi salah satu ikon wisata dan sejarah Kota Semarang.
“Termasuk juga ada Lawang Sewu. Terus banyak hal terkait dengan gedung-gedung masa lalu yang masih terjaga, kita pelihara dengan baik,” tuturnya.
Handi menegaskan, keberadaan JKPI tidak hanya bertujuan menjaga bangunan atau kawasan bersejarah. Lebih dari itu, JKPI menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan warisan budaya tetap hidup dan dipahami generasi penerus.
Menurutnya, pelestarian harus dilakukan melalui proses menjaga, merawat hingga memberikan edukasi kepada masyarakat.
“JKPI ini juga salah satu upaya kita untuk melestarikan budaya di masing-masing daerah. Kemudian tidak hanya melestarikan tetapi juga menjaga, merawat dan mengedukasi masyarakat sehingga budaya itu tetap terus ada sampai anak cucu kita, sampai ratusan tahun yang akan datang,” tegasnya.
Berbicara mengenai Kota Ternate, Handi mengaku memiliki kesan tersendiri. Ia menilai Ternate tidak hanya kaya akan sejarah dan budaya, tetapi juga memiliki keindahan alam yang menjadi daya tarik kuat bagi wisatawan.
Menurutnya, salah satu hal yang paling menarik perhatian adalah kejernihan laut serta keindahan alam Ternate.
“Lautnya bening sekali, kemudian alamnya juga cantik sekali,” ungkapnya.
Handi bahkan mengaku telah tiga kali berkunjung ke Ternate. Setiap kali ada kegiatan yang digelar di Kota Ternate, ia mengaku selalu antusias untuk datang.
“Kebetulan saya sudah tiga kali ke Ternate dan selalu menjadi tempat destinasi yang kita nantikan. Kalau ada acara di sini saya pasti datang karena keren,” katanya.
Kehadiran JKPI di Ternate diharapkan semakin memperkuat jejaring antarkota pusaka di Indonesia sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman dalam menjaga warisan budaya, sejarah, serta potensi wisata daerah.(r/u)










