TERNATE, MATAPUBLIKMU.com – Rencana Balai Wilayah Sungai (BWS) Provinsi Maluku Utara untuk mengalihkan pembangunan tebing sungai alur baru pascapandemi banjir bandang di Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate, mendapat penolakan keras dari warga setempat.
Proyek tersebut merupakan bagian dari pengendalian sedimen di Kecamatan Ternate Selatan dan Kecamatan Pulau Ternate.
Penolakan tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat Kelurahan Rua, Haikal F. Kapita. Menurutnya, rencana pengalihan sisa pekerjaan penguatan tebing ini sangat merugikan warga, terutama yang tinggal di wilayah RT 01 dan RT 02.
“Kami warga Kelurahan Rua menolak keras pemindahan atau pengalihan sisa pekerjaan yang direncanakan oleh pihak BWS Malut, sebagaimana yang disampaikan oleh pihak ketiga (kontraktor),” ujar Haikal.
Pria yang akrab disapa Ekal ini menambahkan, pengalihan pekerjaan serupa pernah terjadi pada tahun 2025 dengan alasan kendala lahan. Kini, proyek tersebut kembali terancam dialihkan dengan alasan yang sama.”Otomatis kami menolak keras. Jika sebelumnya dialihkan ke lingkungan berbeda tetapi masih dalam kelurahan yang sama, rencana kali ini justru dipindahkan ke kelurahan lain,” tegasnya.
Ekal berpendapat, jika proyek terkendala masalah lahan, pemerintah seharusnya mencari solusi atas kendala tersebut, bukan langsung mengalihkan pekerjaan.”Pihak BWS dan rekanan seharusnya mencari solusi penyelesaian dengan pemilik lahan, bukan main pindah atau alihkan pekerjaan begitu saja,” ucapnya.
Ia menegaskan, karena pengalihan sepihak sudah pernah terjadi sebelumnya, warga kali ini kompak menolak. Mereka bahkan mengancam akan memboikot pekerjaan yang saat ini sedang berlangsung jika rencana pengalihan tetap dipaksakan.
“Kalau pun terpaksa dialihkan, kami warga Rua meminta agar proyek dipindahkan ke Sabo Dam 3, bukan ke kelurahan lain,” tuntutnya.
Tanggapan BWS Maluku Utara
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai dan Pantai (Supan) 2 BWS Malut, Irwan Muhammad, membantah adanya rencana pengalihan proyek tersebut. Ia menegaskan bahwa kekhawatiran warga hanya sebatas isu.
“Saat ini fokus kami di BWS adalah bagaimana menyelesaikan pekerjaan itu hingga ke area pantai. Jadi, kabar pengalihan itu hanya isu,” terangnya saat dikonfirmasi.
Meski demikian, Irwan mengakui adanya kendala pembebasan lahan karena pemilik tempat belum memberikan izin, sehingga proyek sempat tertahan.
“Jujur saja, masalah lahan ini bukan ranah BWS. Namun, kami tetap mencoba mencari solusi. Kami berharap pihak kelurahan dan Pemkot Ternate dapat membantu menyelesaikan persoalan ini agar pekerjaan bisa berlanjut. Jika proyek ini tidak diteruskan sampai ke pantai, kami khawatir air akan meluap ke permukiman melalui drainase di samping jembatan saat banjir terjadi,” pungkas Irwan. (r/u)














