Ternate, MATAPUBLIKMU.com – Direktur Utama PT Malut Maju Sejahtera, Dirk Soplanit, mengungkapkan bahwa pembangunan training camp Malut United tidak hanya difokuskan pada kebutuhan tim utama, tetapi juga sebagai pusat pengembangan talenta sepak bola usia dini melalui Akademi Sepak Bola Malut United.
Dalam keterangannya, Dirk menyebutkan bahwa fasilitas di training camp tersebut akan dilengkapi dengan berbagai sarana penunjang, termasuk mes atau asrama bagi peserta akademi serta ruang belajar. Fasilitas ini tidak hanya mendukung pelatihan sepak bola, tetapi juga menunjang pendidikan formal para peserta.
“Di training camp ini, kami siapkan fasilitas lengkap, mulai dari asrama hingga ruang belajar. Anak-anak tidak hanya dilatih secara teknik sepak bola, tetapi juga tetap mendapatkan pendidikan formal,” ujarnya.
Akademi Sepak Bola Malut United akan difokuskan pada pembinaan anak usia 7 hingga 9 tahun. Program ini dirancang untuk menjaring sekitar 70 peserta pada tahap awal, dengan prioritas juga diberikan kepada anak-anak yatim piatu maupun mereka yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Lebih lanjut, Dirk menjelaskan bahwa akademi ini akan diselenggarakan melalui kerja sama internasional dengan klub asal Portugal, SL Benfica. Klub yang berbasis di Lisboa tersebut akan memberikan dukungan dalam bentuk metodologi pelatihan, sistem pembinaan, serta pendampingan teknis secara langsung.
Menurutnya, kerja sama dengan Benfica menjadi langkah strategis untuk menghadirkan standar pelatihan sepak bola kelas dunia di Maluku Utara. Berdasarkan penilaian CIES Football Observatory, Benfica pernah menempati peringkat pertama sebagai akademi unggulan dunia periode 2005–2006, mengungguli sejumlah klub besar lainnya seperti FC Barcelona, River Plate, Ajax Amsterdam, Sporting CP, Boca Juniors, dan Chelsea FC.
Akademi ini merupakan bagian dari visi besar pemilik Malut United, David Glenn dan Kenneth Jeheiskel, yang ingin mencetak pemain sepak bola profesional dari Maluku Utara hingga mampu bersaing di level nasional maupun internasional.
Tidak hanya fokus pada aspek olahraga, akademi ini juga akan menekankan pembentukan karakter, akhlak, dan moral peserta. Untuk itu, pihak Malut United telah menjalin komunikasi awal dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara terkait penyelenggaraan pendidikan berbasis asrama.
Konsep pendidikan tersebut direncanakan berbentuk pesantren bagi peserta Muslim, serta sistem pendidikan yang akan disesuaikan bagi peserta beragama Kristen.
Peluncuran resmi Akademi Sepak Bola Malut United sebelumnya direncanakan pada 7 Maret 2026 di Stadion Gelora Kie Raha, namun harus ditunda akibat kendala penerbangan internasional yang dipengaruhi situasi geopolitik global.
Hingga saat ini, pihak manajemen masih menunggu kepastian jadwal kedatangan tim pelatih dari Benfica sebelum menetapkan tanggal peluncuran baru.
Setelah peluncuran resmi, proses seleksi peserta akan dilakukan langsung oleh tim pelatih dari Benfica untuk memastikan kualitas dan potensi terbaik dari anak-anak yang mendaftar.
Dalam kesempatan tersebut, Dirk juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pembangunan dan pengembangan Malut United, termasuk pembina klub seperti Wakasad TNI-AD, Letjen Saleh Mustafa selaku Pembina Malut United, tokoh daerah seperti Sultan Ternate Hidayatullah Mudaffar Sjah dan Sultan Tidore Husain Alting.
Selain itu, Sekkot Ternate, DR Rizal Marsaoly dan Wakapolda Malut, Brigjen Pol Stephen M. Napiun, atas dukungan berupa bantuan tanaman hias untuk memperindah lingkungan training camp dan Navy Anugrah Umasangadji yang telah membantu peningkatan akses jalan menuju lokasi.
Selain itu, dukungan juga datang dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Maluku Utara, termasuk Amar Manaf dan Zulkiram Chaeruddin, yang turut berkontribusi dalam perencanaan sistem pendidikan di dalam akademi.
Dirk berharap, dengan dukungan dari berbagai pihak, Malut United tidak hanya mampu berprestasi di kancah sepak bola nasional, tetapi juga melahirkan generasi pemain profesional dari “Bumi Kie Raha” yang mampu menembus kompetisi internasional. (a)














